Powered by Blogger.
Latest News
Thursday, September 1, 2016

Kagho : Sitaro Lowong Figur


Manado, BSC - Sebagian orang berpendapat, Kabupaten Kepulauan Sitaro mengalami “lowong figur” yang akan diusung untuk berkompetisi pada Pilkada 2018. 

Makna tersirat (implisit) dari penilaian tersebut adalah: pasca pemerintahan Toni Supit selama dua periode, relatif tidak ada figur yang representatif. Atau dengan kata lain, Toni Supit tidak memiliki kader pengganti dirinya. Beberapa tokoh seperti Djibton Tamudia (sekretaris PDIP dan Ketua DPRD), Eva Sasingen (isteri Toni Supit) dan Siska Salindeho (Wakil Bupati) dalam tataran tertentu, dinilai oleh anggota masyarakat sebagai tokoh yang bukan dipoles dari sistem kaderisasi partai (PDIP lokal). Kondisi itu yang memungkinkan bagi tokoh-tokoh lain seperti Ivone Bentelu dan Tony Rawung (PDIP diaspora) mempunyai peluang yang sama untuk ikut bersaing memperoleh mandat PDIP untuk layak dicalonkan di Sitaro. 

Tokoh internal PDIP lokal yang berpotensi populer pada tahun 2017 nanti adalah Siska Salindeho, Djibton Tamudia dan Eva Sasingen, sedangkan tokoh internal PDIP diaspora ialah Ivone Bentelu dan Tony Rawung. Jika tradisi PDIP dalam mengusung calon dilakukan dengan memprioritaskan kader-kader, maka format Lokal-Diaspora inilah yang kemungkinan besar dilakukan.

Di sisi lain, tidak ada tokoh politisi yang populer sebagai oposisi atau kontra terhadap pemerintahan Toni Supit. Golkar (4 kursi), PAN (3 kursi), Demokrat (2 kursi), Gerindra (2 kursi), Hanura dan NasDem (masing-masing 1 kursi) tak memunculkan gerakan oposisinya selama pemerintahan Toni Supit (PDIP). Hal itulah yang membuat popularitas Piet Hein Kuera (Ketua Golkar non parlemen) dan Hironimus Makainas (Waka DPRD), Elians Bawole (Gerindra), Jotje Luntungan (Demokrat) dan lainnya tidak nampak ke permukaan, sekaligus memberi penguatan terhadap kemungkinan besar PDIP mengusung kadernya pada papan 1 dan papan 2. Dapat disimpulkan bahwa partai-partai yang saya sebut terakhir, mempunyai posisi tawar yang lemah untuk berkoalisi dengan PDIP. Kesempatan bagi figur-figur di partai selain PDIP untuk meningkatkan rating popularitasnya hanya tersisa sepanjang paruh tahun 2016, karena pada tahun 2017 kesempatan ini merupakan kesempatan untuk meningkatkan rating elektabilitas. Jika kolaborasi parpol gabungan tidak dilakukan sejak dini (paruh tahun 2016), maka sulit bagi Golkar dan gabungan parpol untuk memenangkan Pilkada 2018.

Salah satu kekuatan alternatif ialah kehadiran figur dari kalangan independen sebagaimana dimunculkan oleh peran media massa. Victor Kaaro memainkan instrument ini sejak lama melalui lembaga yang dipimpinnya. Victor memainkan peran kelembagaannya secara konsisten selama dua tahun terakhir ini, meskipun belum maksimal menyentuh dan menggerakkan atmosfer perilaku masyarakat di seluruh lapisan sosial masyarakat lewat program-program nyata seperti yang dilakukan Mister Gideon Maru pada Pra Pilkada 2013 lalu. Victor hanya perlu memanfaatkan waktu selama 6 bulan terakhir di tahun 2016 untuk memberi stimulant berupa upaya-upaya kreatif yang menggiring pendukungnya guna memperkuat jaringan suksesi. Bilamana ada ekspektasi dari Victor untuk dapat diusung oleh PDIP, harapan itu sungguh jauh panggang dari api. Golkar dan Pargab masih berpeluang untuk mengusung Victor, apabila ia mampu memperoleh rating popularitas dan elektabilitas yang signifikan pada pertengahan tahun 2017 nanti.

Figur lain yang berkeinginan untuk ikut dalam kompetisi Pilkada 2018 nanti, setidaknya memiliki instrumen berupa kendaraan (organisasi/kelembagaan) dan atau jaringan kerja yang dapat bekerja secara territorial, massif dan terstruktur. Bilamana instrumen-instrumen itu tidak dimainkan dari sekarang, maka mustahil pada tahun 2017, figur dapat memperoleh rating popularitas dan elektabilitas yang signifikan. (S.M Kaghoo)
  • Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Kagho : Sitaro Lowong Figur Rating: 5 Reviewed By: Beritasitaro