Powered by Blogger.
Latest News
Tuesday, February 14, 2017

Menlu RI : Indonesia Tidak Perlu Panik Kebijakan Trump

BSC Jakarta - Kebijakan Kontrofersial presiden AS Donald Trump membuat sejumlah negara panik. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan Indonesia tidak perlu panik terhadap kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Retno mengatakan, meski janji kampanye Trump mulai diimplementasikan, sifatnya masih cair.

"Pada saat Trump sudah dilantik dan mengikuti janji-janji kampanyenya, mungkin kita sudah punya prediksi, janji kampanye untuk lihat implementasinya. Tetapi sekarang beberapa janji kampanyenya sudah diimplementasikan, tapi sekali lagi perjalanan administrasi, atau satu kebijakan sifatnya statis tapi dia masih akan berubah, tergantung kepentingan Amerika," kata Retno saat rapat kerja dengan Komisi I DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (14/2/2017).

Retno menyebut jargon Trump tentang 'America First' atau menempatkan Amerika menjadi yang utama akan mempengaruhi arah kebijakan negara adidaya itu. Retno menganalisis kerja sama ekonomi Amerika yang bakal ditinjau pertama kali. 

"Kalimat itu harus dapat kita pahami dan kebijakan apa yang akan dilakukan Amerika baik kepada kawasan atau Indonesia. Memang yang muncul pertama kali adalah mengenai masalah ekonomi, kerja sama-kerja sama ekonomi yang akan direvisi," jelas Retno.

Retno menyoroti salah satu kebijakan ekonomi Trump adalah tidak akan meneruskan atau ikut meratifikasi Trans Pacific Partnership (TPP). Analisis Retno, hubungan dagang dengan negara lain yang berpotensi merugikan Amerika akan dipertimbangkan ulang. 

"Kesepakatan-kesepakatan atau hubungan dagang yang dilakukan Amerika dengan negara lain, dengan membaca America First, kita akan mendalami di bagian mana Amerika mengalami defisit dalam perjalanan perdagangan bilateralnya. Semakin banyak defisit Amerika, pertama kesepakatan itu akan direvisi," beber dia.

Retno kemudian mencontohkan hubungan dagang Amerika dengan TPP 11 total perdagangan mencapai USD 1,36 triliun dengan defisit USD 157 juta. Dari situ Retno menganalisis administrasi TPP menjadi hal pertama yang dikaji ulang oleh Trump.

"Kita berusaha memahami salah satu yang pertama yang disentuh oleh administrasi Donald Trump. Amerika dengan TPP 9, mengeluarkan Kanada dan Meksiko partner paling besar, jumlah Amerika dengan TPP 9 USD 377 juta dengan defisit USD 90 juta. Faktor Kanada dan Meksiko menjadi sangat signifikan," urai dia.

Sementara itu, Amerika kembali mengalami defisit ketika melihat kerja sama North American Free Trade Agreement (NAFTA). Begitu juga saat kerja sama Amerika dengan China.

"Ketiga Tiongkok. Kita juga meng-observe perdagangan dengan Tiongkok-Amerika besarnya USD 528 juta. Dan Amerika mengalami defisit sebesar USD 319 juta. Jadi defisitnya lumayan banyak dengan Tiongkok," jelasnya.

Lalu di mana posisi Indonesia? Retno menjelaskan kerja sama Amerika dengan Indonesia tidak membuat Negeri Paman Sam mengalami defisit. Untuk itu, posisi Indonesia relatif aman.

"Amerika tidak mengalami defisit yang cukup besar. Artinya, dari segi ekonomi, ASEAN dan Indonesia mungkin katakanlah kita di area yang tidak disentuh pertama hitungannya dari America First dan sebagainya dan sebagainya," papar Retno.

Retno kemudian menegaskan posisi ASEAN menjadi diuntungkan. Sebagai jalur perdagangan kawasan Laut China Selatan dan Laut China Timur mengambil posisi penting di ASEAN dan harus diamankan.

"Kalau lihat kawasan Asia Timur kemudian ASEAN kita lihat suka atau tidak suka stabilitas dan keamanan kawasan akan terwujud karena ada kontribusi ASEAN. Dalam hal ini ASEAN telah memberikan kontribusi bagi terciptanya keamanan dan perdamaian di kawasan ASEAN, Asia Timur, dan sedikit Asia Selatan," papar dia.

"Apakah ASEAN akan tetap memerankan diri sebagai stabilisator atau aktor yang dapat memberikan kontribusi pada stabilitas keamanan kuncinya adalah unity and centrality of ASEAN," sambungnya.

Retno ingin menjadikan ASEAN sebagai magnet bagi pihak-pihak untuk bersinergi menjaga keamanan, perdamaian, dan stabilitas di ASEAN. Untuk itu, diperlukan kesatuan ASEAN demi menjaga kontributor perdamaian kawasan.

"Treaty of Amity and Cooperation (TAC) kami kemarin mencoba melakukan exercise dengan Dirjen ASEAN, sangat strategis pihak lain memberikan atau ikut TAC ini dengan satu komitmen ikut menjaga perdamaian dan keamanan," katanya.

Retno kemudian menjelaskan pihaknya sedang menggodok sebuah pertemuan antarpejabat tinggi di ASEAN. Indonesia, kata Retno, perlu mengambil sikap sebagai inisiator membahas perdamaian, keamanan, dan stabilitas di kawasan.

"Oleh karena itu, kita sedang berpikir dan coba kita godok untuk jual di ASEAN. Saya kira sudah waktunya bagi kita mengadakan pertemuanhigh contracting parties, bicara keamanan dan stabilitas di kawasan. Saya pikir dengan tantangan saat iniit's right time perlu Indonesia menjadi inisiator dalam TAC membahas perdamaian, keamanan, dan stabilitas di kawasan," pungkas dia.(*)
  • Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Menlu RI : Indonesia Tidak Perlu Panik Kebijakan Trump Rating: 5 Reviewed By: Beritasitaro